Kamis, 21 Desember 2017
Rabu, 20 Desember 2017
TUGAS 8 SKENARIO MEMBUAT FILM DOKUMENTER
TUGAS
8 OUT CLASS
Agenda pecan kedua pembuatan
film documenter
|
NO
|
Agenda pembuatan Film Dokumenter
|
|
|
1
|
1.
Kami membuat surat izin observasi
ke SMAN 4 MATARAM.
2. Setelah itu surat izin kami di
tolak karena mengalami
kesalahan pengetikan di bagian sekolah tujuan.
3. Kami kembali ke kampus
untuk membuat ulang surat izin, kemudian dua hari setelahnya kami kembali
mengantar surat dan langsung diterima
4. Melakukan wawancara mengenai pembahasan skenario
film bersama actor yaitu Ibu Suryati
5. Memulai Shooting pembuatan film dari sampainya ibu Suryati
di sekolah SMAN 4 MATARAM dan mengambil video saat proses belajar mengajar
di dalam kelas
6. Setalah itu mewawancari dua orang murid dan salah satu guru BK
untuk menceritakan sedikit kepribadian bu Yati
7. Setelah semua adegan dan proses pembuatan film selesai kami
melanjutkan mengedit film dekomentor bersama-sama
|
|
|
2
|
Target yang diinginkan
|
1. Menghasilkan film yang sesuai dengan harapan.
2. Pengeditan di lakukan semaksimal mungkin agar hasilnya bagus.
3. Hasil film bagus dan menarik untuk disimak.
|
|
3
|
Hasil yang diperoleh
|
1. Ilmu tentang guru yang dapat digunakan saat mengajar.
2. Mendapatkan informasi dan biografi guru.
3. Mendapatkan film dokumenter sesuai dengan yang
di inginkan.
|
|
4
|
Kendala dan pendukung yang ada
|
KENDALA
1. Persetujuan sekolah yang rumit.
2. Bertabrakan dengan jadwal matakuliah lain. Karena menyesuaikan dengan jadwal
mengajar guru.
3. Bertabrakannya proses
shooting dengan ulangan umum.
4.
PENDUKUNG
1.
Kepalasekolah mendukung
kami dalam pembuatan film documenter tersebut.
2.
Guru yang di
jadikan actor sangat
mendukung kami dan menyemangati kami, selain itu beliau juga sangat baik dan
ramah dan asik untuk di ajak bekerja sama mengingat beliau tidak terlalu kaku
serta bahasa yang digunakan sangat menarik dan asik menggunakan bahasa yang
keren dan mengikuti perkembangan zaman.
3.
Siswa dan siswi nya yang dapat diajak bekerjasama
dengan baik sewaktu wawancara mengenai sosok ibu Yati.
|
|
5
|
Cara mengatasi kendala
yang ada
|
1. Melakukan perjanjian dengan tim untuk saling bahu
membahu dan bekerjamasa dengan baik sewaktu proses pembuatan film dokumentor.
2. Melakukan izin kepada dosen matakuliah lain agar dapat melakukan
shooting film dihari yang di tentukan
orang actor.
|
ANGGOTA KELOMPOK:
1.
Nama : Dwi Cahya Adin
Nim : E1B110606
No. Hp : 085339375836
Peran : Cameramen
2.
Nama : Ida Ayu Kartini Sari
Nim : E1B015020
No. Hp : 083129706017
Peran : Penulis sekenario
3.
Nama : Junari Yasin
Nim : E1B015024
No. Hp : 082340129597
Peran : Perekam Suara
4.
Nama : Ni Komang Febriani
Nim : E1B116039
No. Hp : 087885259540
Peran : Sutradara
5.
Nama : NI
PUTU DEVI NATALIA
Nim : E1B116040
No. Hp : 085238623173
Peran : Editor
Selasa, 07 November 2017
Minggu, 22 Oktober 2017
Kamis, 19 Oktober 2017
TUGAS 6 GAGASAN TENTANG SISTEM PENGANGKATAN GURU DAN DISTRIBUSINYA TENTANG SISTEM DAN PENGHARGAAN TERHADAP KINERJA GURU
NI KOMANG FEBRIANI
E1B116039
087855259504
KELAS A (smst 3)
PPKn reguler sore
CREATIVE SUMMARY
·
GAGASAN TENTANG SISTEM PENGANGKATAN GURU DAN
DISTRIBUSINYA
Setelah saya mencari refrensi tentang silabus mata kuliah profesi
keguruan, dan saya dapat menyimpulkan bahwa :
Dalam hal pengangkatan dan penempatan guru di satuan
pendidikan maka pemerintah pusat perlu mengangkat dan menempatkan guru baru
atau mutasi guru lama secara baik. kebutuhan guru baru termasuk perlunya
memperhatikan hasil seleksi nasional penerimaan calon guru baru yang tidak
ditumpangi berbagai kepentingan politis. Dengan kata lain, pengangkatan pertama
guru baru harus sesuai dengan kebutuhan.
Berkaitan dengan penerimaan dan pengangkatan guru, perlu adanya sentralisasi sistem penerimaan dan pengangkatan guru yang dilaksanakan secara terpadu dengan program pendidikan guru dengan ikatan dinas pada LPTK yang berfungsi memenuhi kebutuhan guru secara regional dan nasional. Dalam hal seleksi calon peserta pendidikan guru di LPTK diselenggarakan oleh Kemendiknas secara regional sesuai dengan peta kebutuhan guru secara nasional.
Berkaitan dengan penerimaan dan pengangkatan guru, perlu adanya sentralisasi sistem penerimaan dan pengangkatan guru yang dilaksanakan secara terpadu dengan program pendidikan guru dengan ikatan dinas pada LPTK yang berfungsi memenuhi kebutuhan guru secara regional dan nasional. Dalam hal seleksi calon peserta pendidikan guru di LPTK diselenggarakan oleh Kemendiknas secara regional sesuai dengan peta kebutuhan guru secara nasional.
Dalam hal penempatan dan penugasan guru, sebaiknya lulusan
LPTK langsung diangkat dan ditempatkan berdasarkan kerangka ikatan dinas
dan kebutuhan tenaga guru di seluruh Indonesia. Penugasan guru mengajar sebagai
guru rumpun bidang studi terutama untuk memenuhi kebutuhan guru di daerah
terpencil yang menerapkan sekolah kecil atau satu atap. Kemendikanas mempunyai
kewenangan mengangkat, memindahkan, dan memberhentikan guru yang dilaksanakan secara
regional di tingkat provinsi.
Dari penjelasan di atas saya dapat mengungkapkan, bahwa kesenjangan terjadi pada penempatan / penugasan antara kota dan desa tidak merata sehingga penempatan guru tidak maksimal, sehingga solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah ini dengan adanya penyetaraan antara pengakatan guru di pedesaan dengan perkotaan dengan cara menyeleksi guru baru dengan kopetensi yang memadai dan diberi gaji lebih besar dari perkotaan agar memberikan minat bagi guru untuk dimutasikan di daerah pedesaan.
setelah saya melihat realita atau kenyataan yang ada bahwa anggapan guru di pedesaan itu kebutuhan hidupnya saat di kota yang tadinya mudah dengan semua fasilitas yang ada akan berkurang maka dari itu dengan adanya gaji yang lebih besar akan memacu minatnya untuk berkontribusi di pedesaan.
Dari penjelasan di atas saya dapat mengungkapkan, bahwa kesenjangan terjadi pada penempatan / penugasan antara kota dan desa tidak merata sehingga penempatan guru tidak maksimal, sehingga solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah ini dengan adanya penyetaraan antara pengakatan guru di pedesaan dengan perkotaan dengan cara menyeleksi guru baru dengan kopetensi yang memadai dan diberi gaji lebih besar dari perkotaan agar memberikan minat bagi guru untuk dimutasikan di daerah pedesaan.
setelah saya melihat realita atau kenyataan yang ada bahwa anggapan guru di pedesaan itu kebutuhan hidupnya saat di kota yang tadinya mudah dengan semua fasilitas yang ada akan berkurang maka dari itu dengan adanya gaji yang lebih besar akan memacu minatnya untuk berkontribusi di pedesaan.
·
GAGASAN TENTANG SISTEM HUKUMAN DAN PENGHARGAAN
TERHADAP KINERJA GURU.
1.
Sistem hukuman terhadap guru
Di dalam dunia
pendidikan banyak sekali yang kita lihat pelanggaran-pelanggaran terhadap
aturan dan ketetapan yang di lakukan oleh guru baik dalam lingkungan sekolah
maupun dalam mayarakat oleh karena itu ada beberapa hal hukum yang bisa di
berikan kepada guru jika guru tersebut melakukan pelanggran.
Guru pada umunya mempunyai tugas untuk mengajar tetapi kebanyakan guru yang kita lihat hanya mengisi absen lalu memberikan catatan dan tugas tanpa ada penjelasan dari materi, maka bisa di katakan guru yang demikian merupakan guru tidak bertanggung jawab atau malas mengajar. Oleh karena itu hukuman yang bisa di berikan kepada guru tersebut berupa peringatan jika peringatan tersebut tidak di hiraukan maka hukuman yang selanjutnya adalah pemecatan atau pemberhentian tugas terhadap guru tersebut. Apalagi terhadap guru yang melakukan pelanggaran terhadap kode etik profesi keguruan sangatlah tepat untuk menerima hukuman tersebut.
Dengan adanya solusi tersebut maka akan memberikan efek jera terhadap guru yang lain agar tidak mengikuti tindakan guru yang menyimpang tersebut, dilihat realita yang ada masih banyak guru yang berkopeten belum memiliki kesempatan untuk mengajar.
2. Sistem penghargaan terhadap kinerja guru
Penghargan merupakan pemberian hadiah terhadap seseorang yang sudah mampu memberikan suatu hasil yang baik terhadap suatu bidang pekerjaan yang dilakukanya, begitu juga dalam pendidikan, penghargaan dapat di berikan kepada seorang guru atau apabila guru tersebut melakukan tugas dengan baik dalam mengajar, penghargaan yang dapat di berikan kepada guru tersebut berupa pengangkatan golongan, atau memberikan jabatan tertentu.
Dengan penghargaan berupa pengakatan golongan atau pemberian jabatan maka kinerja seorang guru akan semakin bertambah dan memberikan motivasi kepada guru yang lain bahwa penghargaan itu layak di berikan kepada guru yang bertanggung jawab.
Guru pada umunya mempunyai tugas untuk mengajar tetapi kebanyakan guru yang kita lihat hanya mengisi absen lalu memberikan catatan dan tugas tanpa ada penjelasan dari materi, maka bisa di katakan guru yang demikian merupakan guru tidak bertanggung jawab atau malas mengajar. Oleh karena itu hukuman yang bisa di berikan kepada guru tersebut berupa peringatan jika peringatan tersebut tidak di hiraukan maka hukuman yang selanjutnya adalah pemecatan atau pemberhentian tugas terhadap guru tersebut. Apalagi terhadap guru yang melakukan pelanggaran terhadap kode etik profesi keguruan sangatlah tepat untuk menerima hukuman tersebut.
Dengan adanya solusi tersebut maka akan memberikan efek jera terhadap guru yang lain agar tidak mengikuti tindakan guru yang menyimpang tersebut, dilihat realita yang ada masih banyak guru yang berkopeten belum memiliki kesempatan untuk mengajar.
2. Sistem penghargaan terhadap kinerja guru
Penghargan merupakan pemberian hadiah terhadap seseorang yang sudah mampu memberikan suatu hasil yang baik terhadap suatu bidang pekerjaan yang dilakukanya, begitu juga dalam pendidikan, penghargaan dapat di berikan kepada seorang guru atau apabila guru tersebut melakukan tugas dengan baik dalam mengajar, penghargaan yang dapat di berikan kepada guru tersebut berupa pengangkatan golongan, atau memberikan jabatan tertentu.
Dengan penghargaan berupa pengakatan golongan atau pemberian jabatan maka kinerja seorang guru akan semakin bertambah dan memberikan motivasi kepada guru yang lain bahwa penghargaan itu layak di berikan kepada guru yang bertanggung jawab.
PETA KONSEP
Rabu, 18 Oktober 2017
TUGAS 5 FAKTOR KEKUATAN, KELEMAHAN, PELUANG, HAMBATAN YANG DIALAMI OLEH SEORANG GURU
REFRENSI untuk tugas 5
ANALISIS SWOT TERKAIT DENGAN
PROFESI SEORANG GURU
Dalam proses
pembelajaran di sekolah , guru merupakan sumber daya edukatif dan actor
utama dalam proses pembelajaran tidak akan pernah tergantikan walaupun
perkembangan ilmu pengetahuan tehnologi pembelajaran mengalami
perkembangan sangat pesat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan
tehnologi tidak menjadi penghalang bagi seorang guru
melainkan tantangan yang menuntut kompetensi profesional guru yang
lebih tinggi.
Di era modern ini, peran guru dalam
dunia pendidikan merupakan peran yang sangat central dalam proses
pembinaan peserta didik untuk menyiapkan diri dalam menyosong hari depan, oleh
karena itu para guru harus menyikapi tugas dan tanggung jawabnya sebagai
seorang pendidik dengan bijak dan berupaya untuk meningkatkan kompetensi
sebagai penunjang dalam melaksanakan tugas dan perannya sebagai guru.
Berdasarkan pengamatan dilapangan guru sebagai salah satu sumber informasi bagi
peserta didik maupun masyarakat didorong untuk selalu dapat mengikuti
perkembangan tehnologi dan ilmu pengetahuan yang demikian pesat.
Para guru harus berperan sebagai
penggagas atau inovator dalam merancang masa depan lembaga yang mereka kelola.
Strategi-strategi baru yang inovatif harus dikembangkan dan harus memastikan
bahwa lembaga pendidikan akan melaksanakan tanggung jawab untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat mendatang khususnya pada abad 21 dan setelahnya. Untuk
melakukan hal ini, antara lain dibutuhkan sebuah pengujian mengenai bukan saja
lingkungan lembaga pendidikan itu sendiri tetapi juga lingkungan eksternalnya
(Brodhead,1991). Analisis kekuatan, kelemahan, kesempatan/peluang, dan ancaman
atau SWOT (juga di kenal sebagai analisis TWOS dalam beberapa buku manajemen),
menyediakan sebuah kerangka pemikiran untuk para administrator pendidikan dalam
memfokuskan secara lebih baik pada layanan kebutuhan dalam masyarakat.
Diantara analisis- analisis SWOT
dari seorang guru antara lain :
1.POTENSI KEKUATAN INTERNAL (
STRENGTH)
Guru mampu menggunakan kurikulum
dan metode pengajaran yang inovatif, sehingga siswa
tidak mudah bosan.
Guru memiliki kode etik, sebagai
acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.
Menerapkan proses pembelajaran
berbasis TIK pada semua mata pelajaran.
Terjalin hubungan baik antara
kepala sekolah dengan guru, sehingga dalam proses
pembelajaran berjalan lancar.
Guru mempunyai dedikasi tinggi
terhadap pendidikan , sehingga dalam menjalankan tugas mempunyai rasa tanggung
jawab untuk mencerdaskan anak didiknya.
6. Guru
mampu memperagakan apa yang akan diajarkan secara didaktik dan metodik,
sehingga apa yang diajarkannya dapat dimengerti dan dipahami serta dikuasai
oleh peserta didik.
7. Guru
mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar agar kegiatan – kegiatan
belajar terarah pada tujuan pendidikan.
8. Guru
memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup akan media pendidikan sebagai sarana
komunikasi dalam proses belajar.
9. Guru
memiliki pengetahuan dan kemampuan melakukan evaluasi terhadap hasil belajar
yang telah dicapai oleh peserta didik maupun oleh pendidik yang bertujuan
apakah materi yang diajarkan dapat diserap dengan baik oleh peserta didik
bahkan sebaliknya apakah yang materi diajarkan sudah sesuai serta metode yang
digunakan tepat.
2. POTENSI KELEMAHAN INTERNAL
(WEAKNESS)
Guru kurang disiplin dalam
melaksanakan tugas dan sering datang terlambat.
Kurangnya sarana dan prasarana
pendidikan seperti ruang kelas, sarana olah raga dan perlengkapan pembelajaran
lainnya.
Tidak semua guru mampu
memfasilitasi pembelajaran berbasis TIK.
Adanya guru yang diberi tugas
rangkap untuk mengajar berbagai mata pelajaran.
Rendahnya semangat tenaga pengajar
yang disebabkan oleh rendahnya prestasi siswa.
Guru sering
meninggalkan ruang kelas saat jam
pelajaran sehingga proses belajar mengajar tidak berjalan lancar.
Kurangnya dedikasi sebagian
guru terhadap tugasnya.
Guru kurang menguasai berbagai
teori belajar, sehingga proses pembelajaran cenderung monoton sehingga peserta
didik mudah bosan.
Kurangnya semangat guru untuk
banyak belajar tentang berbagai disiplin ilmu.
Rendahnya tingkat kesejahteraan
guru.
3. POTENSI KESEMPATAN/PELUANG EKSTERNAL
(OPPORTUNITY)
Perlu mengadakan peningkatan
kemampuan guru. Peningkatan kemampuan guru dapat dilakukan dengan berbagai cara
, antara lain:
§ Pendidikan lanjutan
dalam jabatan
§ Kemantapan kerja guru
(PKG)
Pengembangan karier guru
yaitu dengan cara mengadakan
lomba dan memberikan penghargaan bagi guru yang berprestasi.
Adanya partisipasi dukungan
masyarakat di bidang pendidikan.
Adanya program Ivent kompetensi
tentang kompetensi guru , baik tingkat daerah, regional, nasional, maupun
internasional.
Adanya komitmen pemerintah untuk
meningkatkan mutu pendidikan.
Adanya dukungan pemerintah terhadap
kesejahteraan guru.
Kebutuhan masyarakat terhadap
pelayanan pendidikan.
Dengan mendayagunakan peraturan
perundangan di bidang pendidikan, pelayanan pendidikan yang bermutu dan merata
akan lebih mudah.
Mendayagunakan sarana prasarana
yang ada dalam rangka pelayanan pendidikan yang bermutu.
4. POTENSI ANCAMAN EKSTERNAL(
THREAT)
1. Masih
adanya perilaku dan budaya masyarakat yang kurang mendukung program pendidikan.
2. Pemerintah
masih kurang maksimal dalam memberi kesejahteraan guru.
3. Adanya
kebijakan sistem pendidikan yang sering berubah.
4. Biaya
pendidikan yang semakin tinggi.
5. Kurangnya
perhatian pemerintah terhadap kemajuan pedidikan.
6. Berlakunya
Era Pasar Bebas Asean dan Asia 2010 memiliki konsekuensi tumbuhnya persaingan
yang amat ketat dalam segala aspek kehidupan, termasuk di bidang pendidikan.
Seorang guru yang mempunyai
kemampuan tinggi akan selalu memperhitungkan segala sesuatunya dengan berkaca
pada analisis SWOT ini.Seberapa besar kemampuannya dalam menghasilkan sebuah
prestasi, tergantung pada kemauannya untuk terus berupaya mengasahnya.Karena,
prestasi profesionalisme didapat dari unsur kemauan dan kemampuan.Melalui
analisis SWOT, seorang guru dapat mengetahui di mana letak kekuatan dan
kelemahan diri, seberapa besar peluang yang dimiliki, dan sejauh mana ancaman
yang menghadang.Pengetahuan tentang potensi ini akan membantu dalam pengembangan
profesionalisme.
Dari analisis SWOT di atas, seorang
guru , bisa melaksanakan berbagai strategi untuk meningkatkan mutu
profesionalismenya secara perorangan ataupun secara bersama- sama.
a) Secara
sendiri- sendiri, yaitu dengan jalan:
Ø Menekuni dan
mempelajari secara kontinu pengetahuan- pengetahuan yang berhubungan dengan
teknik atau proses belajar mengajar secara umum.Misalnya, pengetahuan tentang
PBM (Proses Belajar Mengajar) atau ilmu- ilmu lainnya yang dapat meningkatkan
tugas keprofesiannya.
Ø Mencari spesialisasi
bidang ilmu yang diajarkan.
Ø Melakukan kegiatan-
kegiatan mandiri yang relevan dengan tugas keprofesiannya.
Ø Mengembangkan materi
dan metodologi yang sesuai dengan kebutuhan pengajaran.
b) Secara
bersama- sama dapat dilakukan, misalnya dengan:
Selain usaha dari guru sendiri,
pemerintah mengeluarkan Undang-undang no.20 th 2003
tentang Sistim Pendidikan Nasional dan Peraturan
Pemerintah No.19 th 2005 yang dijadikan landasan pengembangan kesatuan
pendidikan. Untuk itu pendidikan di masa yang akan mendatang berupaya mengacu
pada bertaraf standar Internasional. Sehingga dapat menghasilkan lulusan yang
mampu bersaing pada masa yang akan datang.
Arah dari 8 standar pengembangan
1. Pengembangan standar isi
pendidikan
2. Pengembangan standar proses
pendidikan
3. Pengembangan standar
kompetensi kelulusan
4. Pengembangan standar
Pendidikan dan Tenaga Kependidikan
5. Pengembangan sarana dan
prasarana yang berstandar
6. Pengembangan standar
pengelolaan pendidikan
7. Pengembangan standar
pembiayaan pendidikan
8. Pengembangan standar
penilaian pendidikan
Selain upaya di atas, implikasi
bagi seorang guru dalam memanfaatan teknologi dalam pembelajaran
adalah memperlancar kegiatan dan memudahkan dalam proses
pembelajaran dengan:
1. Menuntut banyak kegiatan dari siswa dan menuntut murid untuk banyak berhati-hati untuk menyiapkan pekerjaanya
2. Menyajikan bahan ajar yang kompleks
3. Mempercayai murid dapat memahami konsep-konsep yang berat
4. Mempertemukan kebutuhan individual murid yang paling baik
5. Memokuskan pada kegiatan murid sebagai senter dalam proses pembelajaraannya
6. Membuka lebih luas perbedaan-perbedaan individual dan permasalahan-permasalahan yang muncul dalam pembelajaran
7. Membuka kesempatan yang lebih luas dalam perbedaan pengalaman belajar bagi murid
8. Merasa lebih professional, karena diantara alat yang ada dapat mengurangi waktu dalam memberikan instruksi dan lebih kepada membantu anak dalam belajar.
1. Menuntut banyak kegiatan dari siswa dan menuntut murid untuk banyak berhati-hati untuk menyiapkan pekerjaanya
2. Menyajikan bahan ajar yang kompleks
3. Mempercayai murid dapat memahami konsep-konsep yang berat
4. Mempertemukan kebutuhan individual murid yang paling baik
5. Memokuskan pada kegiatan murid sebagai senter dalam proses pembelajaraannya
6. Membuka lebih luas perbedaan-perbedaan individual dan permasalahan-permasalahan yang muncul dalam pembelajaran
7. Membuka kesempatan yang lebih luas dalam perbedaan pengalaman belajar bagi murid
8. Merasa lebih professional, karena diantara alat yang ada dapat mengurangi waktu dalam memberikan instruksi dan lebih kepada membantu anak dalam belajar.
Langganan:
Postingan (Atom)













