Rabu, 20 Desember 2017

TUGAS 8 SKENARIO MEMBUAT FILM DOKUMENTER

TUGAS 8 OUT CLASS

Agenda pecan kedua pembuatan film documenter

NO
Agenda pembuatan Film Dokumenter


1
Apa yang akan dilakukan?

1.      Kami membuat surat izin observasi ke SMAN 4 MATARAM.

2.      Setelah itu surat izin kami di tolak karena mengalami kesalahan pengetikan di bagian sekolah tujuan.

3.      Kami kembali ke kampus untuk membuat ulang surat izin, kemudian dua hari setelahnya kami kembali mengantar surat dan langsung diterima

4.      Melakukan wawancara mengenai pembahasan skenario film bersama actor yaitu Ibu Suryati

5.      Memulai Shooting pembuatan film dari sampainya ibu Suryati di sekolah SMAN 4 MATARAM dan mengambil video saat proses belajar mengajar di dalam kelas

6.      Setalah itu mewawancari dua orang murid dan salah satu guru BK untuk menceritakan sedikit kepribadian bu Yati

7.      Setelah semua adegan dan proses pembuatan film selesai kami melanjutkan mengedit film dekomentor bersama-sama

2
Target yang diinginkan
1.      Menghasilkan film yang sesuai dengan harapan.

2.      Pengeditan di lakukan semaksimal mungkin agar hasilnya bagus.


3.      Hasil film bagus dan menarik untuk disimak.

3
Hasil yang diperoleh
1.      Ilmu tentang guru yang dapat digunakan saat mengajar.

2.      Mendapatkan informasi dan biografi guru.


3.      Mendapatkan film dokumenter sesuai dengan yang di inginkan.

4
Kendala dan pendukung yang ada
KENDALA

1.      Persetujuan sekolah yang rumit.
2.      Bertabrakan dengan jadwal matakuliah lain. Karena menyesuaikan dengan jadwal mengajar guru.

3.      Bertabrakannya proses shooting dengan ulangan umum.
4.       
PENDUKUNG

1.      Kepalasekolah mendukung kami dalam pembuatan film documenter tersebut.

2.      Guru yang di jadikan actor sangat mendukung kami dan menyemangati kami, selain itu beliau juga sangat baik dan ramah dan asik untuk di ajak bekerja sama mengingat beliau tidak terlalu kaku serta bahasa yang digunakan sangat menarik dan asik menggunakan bahasa yang keren dan mengikuti perkembangan zaman.

3.      Siswa dan siswi nya yang dapat diajak bekerjasama dengan baik sewaktu wawancara mengenai sosok ibu Yati.


5
Cara mengatasi kendala yang ada
1.      Melakukan perjanjian dengan tim untuk saling bahu membahu dan bekerjamasa dengan baik sewaktu proses pembuatan film dokumentor.


2.      Melakukan izin kepada dosen matakuliah lain agar dapat melakukan shooting film  dihari yang di tentukan orang  actor.



ANGGOTA KELOMPOK:
1.      Nama                     : Dwi Cahya Adin
Nim                       : E1B110606
No. Hp                  : 085339375836
Peran                     : Cameramen

2.      Nama                     : Ida Ayu Kartini Sari
Nim                       : E1B015020
No. Hp                  : 083129706017
Peran                     : Penulis sekenario

3.      Nama                     : Junari Yasin
Nim                       : E1B015024
No. Hp                  : 082340129597
Peran                     : Perekam Suara

4.      Nama                     : Ni Komang Febriani
Nim                       : E1B116039
No. Hp                  : 087885259540
Peran                     : Sutradara

5.      Nama                     : NI PUTU DEVI NATALIA
Nim                       : E1B116040
No. Hp                  : 085238623173
Peran                     : Editor



Kamis, 19 Oktober 2017

TUGAS 6 GAGASAN TENTANG SISTEM PENGANGKATAN GURU DAN DISTRIBUSINYA TENTANG SISTEM DAN PENGHARGAAN TERHADAP KINERJA GURU

NI KOMANG FEBRIANI
E1B116039
087855259504
KELAS A (smst 3)
PPKn reguler sore
CREATIVE  SUMMARY
·         GAGASAN TENTANG SISTEM PENGANGKATAN GURU DAN DISTRIBUSINYA
Setelah saya mencari  refrensi tentang silabus mata kuliah profesi keguruan, dan saya dapat menyimpulkan bahwa :
Dalam hal pengangkatan dan penempatan guru di satuan pendidikan maka pemerintah pusat perlu mengangkat dan menempatkan guru baru atau mutasi guru lama secara baik. kebutuhan guru baru termasuk perlunya memperhatikan hasil seleksi nasional penerimaan calon guru baru yang tidak ditumpangi berbagai kepentingan politis. Dengan kata lain, pengangkatan pertama guru baru harus sesuai dengan kebutuhan.
Berkaitan dengan penerimaan dan pengangkatan guru, perlu adanya sentralisasi sistem penerimaan dan pengangkatan guru yang dilaksanakan secara terpadu dengan program pendidikan guru dengan ikatan dinas pada LPTK yang berfungsi memenuhi kebutuhan guru secara regional dan nasional. Dalam hal seleksi calon peserta pendidikan guru di LPTK diselenggarakan oleh Kemendiknas secara regional sesuai dengan peta kebutuhan guru secara nasional.

Dalam hal penempatan dan penugasan guru, sebaiknya lulusan LPTK langsung  diangkat dan ditempatkan berdasarkan kerangka ikatan dinas dan kebutuhan tenaga guru di seluruh Indonesia. Penugasan guru mengajar sebagai guru rumpun bidang studi terutama untuk memenuhi kebutuhan guru di daerah terpencil yang menerapkan sekolah kecil atau satu atap. Kemendikanas mempunyai kewenangan mengangkat, memindahkan, dan memberhentikan guru yang dilaksanakan secara regional di tingkat provinsi.

        Dari penjelasan di atas saya dapat mengungkapkan,  bahwa kesenjangan terjadi pada penempatan / penugasan  antara kota dan desa tidak merata sehingga penempatan guru tidak maksimal, sehingga solusi yang dapat  digunakan untuk mengatasi masalah ini dengan adanya penyetaraan antara pengakatan guru di pedesaan dengan perkotaan dengan cara menyeleksi guru baru dengan kopetensi yang memadai dan diberi gaji lebih besar dari perkotaan agar  memberikan minat bagi guru untuk dimutasikan di daerah pedesaan.
       setelah saya melihat realita atau kenyataan yang ada bahwa anggapan guru di pedesaan itu kebutuhan hidupnya saat di kota yang  tadinya mudah dengan semua fasilitas yang ada akan berkurang maka  dari itu dengan adanya gaji yang lebih besar akan memacu minatnya untuk berkontribusi di pedesaan.

·         GAGASAN TENTANG SISTEM HUKUMAN DAN PENGHARGAAN TERHADAP KINERJA GURU.

1.       Sistem hukuman terhadap guru
        Di dalam dunia pendidikan banyak sekali yang kita lihat pelanggaran-pelanggaran  terhadap aturan dan ketetapan yang di lakukan oleh guru baik dalam lingkungan sekolah maupun dalam mayarakat oleh karena itu ada beberapa hal hukum yang bisa di berikan kepada guru jika guru tersebut melakukan pelanggran.
Guru pada umunya mempunyai tugas untuk mengajar tetapi kebanyakan guru yang kita lihat hanya mengisi absen lalu memberikan catatan dan tugas  tanpa ada penjelasan dari materi, maka bisa di katakan guru yang demikian merupakan guru tidak bertanggung jawab atau malas mengajar. Oleh karena itu hukuman yang bisa di berikan kepada  guru tersebut berupa peringatan jika peringatan tersebut tidak di hiraukan maka hukuman yang selanjutnya adalah pemecatan atau pemberhentian tugas terhadap guru tersebut. Apalagi terhadap guru yang melakukan pelanggaran terhadap kode etik profesi keguruan sangatlah tepat untuk menerima hukuman tersebut.
Dengan adanya solusi tersebut maka akan memberikan efek jera terhadap guru yang lain agar tidak mengikuti tindakan guru yang  menyimpang tersebut, dilihat realita yang ada masih banyak guru yang berkopeten belum memiliki kesempatan untuk mengajar.


       2.    Sistem penghargaan terhadap kinerja guru

        Penghargan merupakan pemberian hadiah terhadap seseorang yang sudah mampu memberikan suatu hasil yang baik terhadap suatu bidang pekerjaan yang dilakukanya, begitu juga dalam pendidikan, penghargaan dapat di berikan kepada seorang guru atau apabila guru tersebut melakukan tugas dengan baik dalam mengajar, penghargaan yang dapat di  berikan kepada guru tersebut berupa pengangkatan golongan, atau memberikan jabatan tertentu.
Dengan penghargaan berupa pengakatan golongan atau pemberian  jabatan  maka kinerja seorang guru akan semakin bertambah dan memberikan motivasi kepada guru yang lain bahwa penghargaan itu layak di berikan kepada guru yang bertanggung jawab.








PETA KONSEP







Rabu, 18 Oktober 2017

TUGAS 3 INDIKATOR GURU PROFESIONAL



TUGAS 5 FAKTOR KEKUATAN, KELEMAHAN, PELUANG, HAMBATAN YANG DIALAMI OLEH SEORANG GURU




REFRENSI  untuk tugas 5
ANALISIS SWOT TERKAIT DENGAN PROFESI SEORANG GURU
Dalam proses pembelajaran di sekolah , guru merupakan sumber daya edukatif dan actor utama dalam proses pembelajaran tidak akan pernah tergantikan walaupun perkembangan ilmu pengetahuan tehnologi pembelajaran mengalami perkembangan  sangat pesat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi  tidak menjadi penghalang  bagi seorang guru melainkan  tantangan yang menuntut kompetensi profesional guru yang lebih tinggi.
Di era modern ini, peran guru dalam dunia pendidikan merupakan peran yang sangat central dalam proses pembinaan peserta didik untuk menyiapkan diri dalam menyosong hari depan, oleh karena itu para guru harus menyikapi tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pendidik dengan bijak dan berupaya untuk meningkatkan kompetensi sebagai penunjang dalam melaksanakan tugas dan perannya sebagai guru. Berdasarkan pengamatan dilapangan guru sebagai salah satu sumber informasi bagi peserta didik maupun masyarakat didorong untuk selalu dapat mengikuti perkembangan tehnologi dan ilmu pengetahuan yang demikian pesat.
Para guru harus berperan sebagai penggagas atau inovator dalam merancang masa depan lembaga yang mereka kelola. Strategi-strategi baru yang inovatif harus dikembangkan dan harus memastikan bahwa lembaga pendidikan akan melaksanakan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan masyarakat mendatang khususnya pada abad 21 dan setelahnya. Untuk melakukan hal ini, antara lain dibutuhkan sebuah pengujian mengenai bukan saja lingkungan lembaga pendidikan itu sendiri tetapi juga lingkungan eksternalnya (Brodhead,1991). Analisis kekuatan, kelemahan, kesempatan/peluang, dan ancaman atau SWOT (juga di kenal sebagai analisis TWOS dalam beberapa buku manajemen), menyediakan sebuah kerangka pemikiran untuk para administrator pendidikan dalam memfokuskan secara lebih baik pada layanan kebutuhan dalam masyarakat.
Diantara analisis- analisis SWOT dari seorang guru antara lain :

1.POTENSI KEKUATAN INTERNAL ( STRENGTH)
Guru mampu menggunakan kurikulum dan metode pengajaran yang inovatif, sehingga siswa tidak mudah bosan.
Guru memiliki kode etik, sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.
Menerapkan proses pembelajaran berbasis TIK pada semua mata pelajaran.
Terjalin hubungan baik antara kepala sekolah dengan guru, sehingga dalam proses pembelajaran  berjalan lancar.
Guru mempunyai dedikasi tinggi terhadap pendidikan , sehingga dalam menjalankan tugas mempunyai rasa tanggung jawab untuk mencerdaskan anak didiknya.
6.      Guru mampu memperagakan apa yang akan diajarkan secara didaktik dan metodik, sehingga apa yang diajarkannya dapat dimengerti dan dipahami serta dikuasai oleh peserta didik.
7.      Guru mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar agar kegiatan – kegiatan belajar terarah pada tujuan pendidikan.
8.      Guru memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup akan media pendidikan sebagai sarana komunikasi dalam proses belajar.
9.      Guru memiliki pengetahuan dan kemampuan melakukan evaluasi terhadap hasil belajar yang telah dicapai oleh peserta didik maupun oleh pendidik yang bertujuan apakah materi yang diajarkan dapat diserap dengan baik oleh peserta didik bahkan sebaliknya apakah yang materi diajarkan sudah sesuai serta metode yang digunakan tepat.

2. POTENSI KELEMAHAN INTERNAL (WEAKNESS)
Guru kurang disiplin dalam melaksanakan tugas dan sering datang terlambat.
Kurangnya sarana dan prasarana pendidikan seperti ruang kelas, sarana olah raga dan perlengkapan pembelajaran lainnya.
Tidak semua guru mampu memfasilitasi pembelajaran berbasis TIK.
Adanya guru yang diberi tugas rangkap untuk mengajar berbagai mata pelajaran.
Rendahnya semangat tenaga pengajar yang disebabkan oleh rendahnya prestasi siswa.
Guru sering meninggalkan  ruang kelas  saat jam pelajaran  sehingga proses belajar mengajar tidak berjalan lancar.
Kurangnya dedikasi sebagian guru terhadap tugasnya.
Guru kurang menguasai berbagai teori belajar, sehingga proses pembelajaran cenderung monoton sehingga peserta didik mudah bosan.
Kurangnya semangat guru untuk banyak belajar tentang berbagai disiplin ilmu.
Rendahnya tingkat kesejahteraan guru.

3. POTENSI KESEMPATAN/PELUANG EKSTERNAL (OPPORTUNITY)

Perlu mengadakan peningkatan kemampuan guru. Peningkatan kemampuan guru dapat dilakukan dengan berbagai cara , antara lain:
§  Pendidikan lanjutan dalam jabatan
§  Kemantapan kerja guru (PKG)
Pengembangan karier guru
yaitu dengan cara mengadakan lomba dan memberikan penghargaan bagi guru yang berprestasi.
Adanya partisipasi dukungan masyarakat di bidang pendidikan.
Adanya program Ivent kompetensi tentang kompetensi guru , baik tingkat daerah, regional, nasional, maupun internasional.
Adanya komitmen pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Adanya dukungan pemerintah terhadap kesejahteraan guru.
Kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan pendidikan.
Dengan mendayagunakan peraturan perundangan di bidang pendidikan, pelayanan pendidikan yang bermutu dan merata akan lebih mudah.
Mendayagunakan sarana prasarana yang ada dalam rangka pelayanan pendidikan yang bermutu.

4. POTENSI ANCAMAN EKSTERNAL( THREAT)
1.      Masih adanya perilaku dan budaya masyarakat yang kurang mendukung program pendidikan.
2.      Pemerintah masih kurang maksimal dalam memberi kesejahteraan guru.
3.      Adanya kebijakan sistem pendidikan yang sering berubah.
4.      Biaya pendidikan yang semakin tinggi.
5.      Kurangnya perhatian pemerintah terhadap kemajuan pedidikan.
6.      Berlakunya Era Pasar Bebas Asean dan Asia 2010 memiliki konsekuensi tumbuhnya persaingan yang amat ketat dalam segala aspek kehidupan, termasuk di bidang pendidikan.


Seorang guru yang mempunyai kemampuan tinggi akan selalu memperhitungkan segala sesuatunya dengan berkaca pada analisis SWOT ini.Seberapa besar kemampuannya dalam menghasilkan sebuah prestasi, tergantung pada kemauannya untuk terus berupaya mengasahnya.Karena, prestasi profesionalisme didapat dari unsur kemauan dan kemampuan.Melalui analisis SWOT, seorang guru dapat mengetahui di mana letak kekuatan dan kelemahan diri, seberapa besar peluang yang dimiliki, dan sejauh mana ancaman yang menghadang.Pengetahuan tentang potensi ini akan membantu dalam pengembangan profesionalisme.
Dari analisis SWOT di atas, seorang guru , bisa melaksanakan berbagai strategi untuk meningkatkan mutu profesionalismenya secara perorangan ataupun secara bersama- sama.
a)      Secara sendiri- sendiri, yaitu dengan jalan:
Ø  Menekuni dan mempelajari secara kontinu pengetahuan- pengetahuan yang berhubungan dengan teknik atau proses belajar mengajar secara umum.Misalnya, pengetahuan tentang PBM (Proses Belajar Mengajar) atau ilmu- ilmu lainnya yang dapat meningkatkan tugas keprofesiannya.
Ø  Mencari spesialisasi bidang ilmu yang diajarkan.
Ø  Melakukan kegiatan- kegiatan mandiri yang relevan dengan tugas keprofesiannya.
Ø  Mengembangkan materi dan metodologi yang sesuai dengan kebutuhan pengajaran.
b)      Secara bersama- sama dapat dilakukan, misalnya dengan:
*      Mengikuti berbagai bentuk penataran dan lokakarya.
*      Mengikuti program pembinaan keprofesian secara khusus, misalnya program akta, sertifikasi, dan lain sebagainya.

Selain usaha dari guru sendiri, pemerintah mengeluarkan Undang-undang no.20 th 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah No.19 th 2005 yang dijadikan landasan pengembangan kesatuan pendidikan. Untuk itu pendidikan di masa yang akan mendatang berupaya mengacu pada bertaraf standar Internasional. Sehingga dapat menghasilkan lulusan yang mampu bersaing pada masa yang akan datang.
Arah dari 8 standar pengembangan
1. Pengembangan standar isi pendidikan
2. Pengembangan standar proses pendidikan
3. Pengembangan standar kompetensi kelulusan
4. Pengembangan standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan
5. Pengembangan sarana dan prasarana yang berstandar
6. Pengembangan standar pengelolaan pendidikan
7. Pengembangan standar pembiayaan pendidikan
8. Pengembangan standar penilaian pendidikan

Selain upaya di atas, implikasi bagi seorang guru dalam memanfaatan teknologi dalam pembelajaran adalah memperlancar kegiatan dan memudahkan dalam proses pembelajaran dengan:

1. Menuntut banyak kegiatan dari siswa dan menuntut murid untuk banyak berhati-hati untuk menyiapkan pekerjaanya
2. Menyajikan bahan ajar yang kompleks
3. Mempercayai murid dapat memahami konsep-konsep yang berat
4. Mempertemukan kebutuhan individual murid yang paling baik
5. Memokuskan pada kegiatan murid sebagai senter dalam proses pembelajaraannya
6. Membuka lebih luas perbedaan-perbedaan individual dan permasalahan-permasalahan yang muncul dalam pembelajaran
7. Membuka kesempatan yang lebih luas dalam perbedaan pengalaman belajar bagi murid
8. Merasa lebih professional, karena diantara alat yang ada dapat mengurangi waktu dalam memberikan instruksi dan lebih kepada membantu anak dalam belajar.